Fatayat NU Sulsel Sosialisasi Gerakan Pencegahan Perkawinan Anak

Soppeng-SN. Tingginya angka pernikahan anak di Sulawesi Selatan (data tahun 2018 di Indonesia, sulsel masuk urutan 12) mendorong organisasi masyarakat PW Fatayat Nahdlatul Ulama ( Fatayat NU) Sulawesi Selatan, gencar melakukan sosialisasi pencegahan perkawinan anak.

Bersama Kanwil Kementerian Agama, Provinsi Sulawesi Selatan, PW Fatayat NU sulsel melakukan sosialisasi di depan penyuluh agama di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Rabu (16/10/2019).

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H. Anwar Abubakar, mengatakan, ada berbagai dampak yang muncul, jika pernikahan anak ini terjadi. Antara lain masalah kesehatan (alat reproduksi yg belum matang, rentan terhadap kematian ibu dan bayi dan persoalan kehamilan lainnya, anak berpotensi menderita stunting).

Menurut Anwar, ketidaksiapan menjadi orang tua, karena kurangnya pemahaman atas pengetahuan bagaimana menjadi orang tua yang baik, juga menjadi pokok masalah dalam rumah tangga. Masalah yang utama adalah menyangkut dampak sosial, yang bisa dtanggung oleh si anak.

“Dampak sosial akan memberikan dampak psikologis (psikis) berat buat anak. Apalagi, saat ini media sosial berperan penting dalam relasi dalam keluarga. Tingginya pengaruh media sosial, itu biasa mempengaruhi anak. Oleh karenanya pernikahan itu dibutuhkan kematangan mental, pengetahuan dan ilmu agama”, jelas Anwar Abubakar.

Menurutnya, departemen agama berkepentingan untuk terlibat aktif dalam melakukan sosialisasi cegah pernikahan dini. Sering kali kegiatan agama dijadikan alat justifikasi atau pembenaran untuk mencapai tindakan-tindakan tertentu terkait pernikahan anak usia dini.

Sementara itu, Ketua Fatayat NU, Nurul Ulfa mengatakan, Fatayat NU gencar melakukan gerakan cegah pernikahan anak sejak dini. Kabupaten Soppeng adalah daerah yang disasar pertama untuk road show cegah pernikahan dini.

“Target kita, Fatayat adalah penyuluh agama, karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat. Selanjutnya, akan menyasar sekolah-sekolah SMA dan Madrasah Aliyah dan pondok pesantren”, kata Ulfa.

Menurut Ulfa, pengetahuan dini sejak dini tentang pernikahan muda, dampak kesehatan, alat reproduksi hingga dampak sosial menjadi penting diketahui bersama baik penyuluh maupun anak-anak usia remaja.

“Kita advokasi dan memberikan pengetahuan tentang pentingan hak-hak anak dan perempuan. Selain itu, program cegah pernikahan dini juga sangat mendukung gerakan cegah stunting, “ tambah dosen UMI Makassar.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis, yang disebabkan kurangnya suapan gizi yang berdampak pada gagal tumbuh anak dari standar usia normal.

Anak-anak yang belum paham soal pengetahuan pola asuh dan hidup sehat, harus dihadapkan pada kondisi pernikahan , tentu tidak maksimal dalam mengurus anak dan keluarganya.
(Dh)

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *